Seminar Pendidikan 2017

LATAR BELAKANG

Membicarakan tentang dunia pendidikan tidak akan pernah ada habisnya, karena pendidikan merupakan salah satu pondasi untuk membangun peradaban Negara-Bangsa. Di semua Negara, baik yang telah maju maupun yang sedang berkembang, pendidikan semakin mendapat tempat yang penting bahkan dapat dikatakan tempat yang sangat strategis dalam proses pembangunan dan pertumbuhan sebuah Negara.

            Menurut Daoed Joesoef (Alumnus Universite Pluridiscplinaires Pantheon- Sorbonne) dalam tulisannya di rubrik opini Koran Kompas tanggal 25 Januari  2017, ada dua cara yang membuat Negara-Bangsa lumpuh. Pertama, melibatkannya dalam peperangan atau konflik berkepanjangan. Kedua, apabila pendidikan anak-anak bangsa diabaikan. Ki Hajar Dewantara pun telah lama mengingatkan bahwa mendidik anak sangatlah penting, Ki Hajar Dewantara  menyatakan, “Mendidik anak itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada zaman sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orang tua pada waktu kita masih kanak-kanak. Sebaliknya anak-anak yang pada waktu ini kita didik, kelak akan menjadi warganegara kita” (Karya Ki Hajar Dewantara bagian pertama: Pendidikan, 1962:3).

                Namun, kondisi pendidikan di Indonesia saat ini masihlah jauh panggang dari api. Kesenjangan kualitas pendidikan pada masing-masing daerah masih terjadi. Salah satu faktor penyebabnya adalah perbedaan biaya pendidikan dan kemampuan setiap daerah dalam menyelenggarakan pendidikan. Dalam hal ini, faktor keuangan dan pembiayaan disadari  sebagai salah satu sumber daya utama dalam menunjang efektivitas pengelolaan pendidikan. Untuk penghitungan satuan biaya pendidikan hendaknya didasarkan pada kondisi riil di masing- masing daerah. Selain itu, perlu pula dilakukan pemetaan kondisi di berbagai daerah untuk mengklasifikasi berbagai kelompok daerah yang memiliki kesamaan biaya unit (Arini Mayan, 2011).

            Ketua Umum PGRI 2013 – 2016 Alm. Dr. H. Sulistiyo, M.Pd, menyatakan “Pendidikan kita belum memiliki arah yang jelas. Bahkan aneh, setiap pergantian kepemimpinan nasional dan pergantian menteri, kurikulum pendidikan selalu berubah-ubah. Termasuk kebijakan terhadap guru honorer, yang akan diangkat menjadi guru tetap atau pegawai negeri sipil, tapi nasibnya kini justru mengambang” (http//www.pikiran-rakyat.com//pendidikan/2015/11/18/pgri-pendidikan-belum-memiliki-arah, 31 Januari 2017).

            Winarno Surakhmad dalam buku 10 Windu Prof. Dr.  H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed, Pendidikan Nasional: Arah ke mana?, menegaskan bahwa kita perlu secepatnya mengaktifkan pendidikan karakter, agar bangsa ini tidak semakin menjadi bangsa penakut atau agar tidak tampil menakutkan. Tetapi pendidikan karakter yang bagaimana yang dikehendaki? Sayangnya, tidak pernah jelas sampai sekarang. Hukum semakin jadi barang dagangan; keadilan kehilangan makna; pejabat yang seharusnya menjadi panutan bermoral tak layak dicontoh. Masyarakat semakin bingung; pemerintah sendiri pun bingung. Pemerintah dan masyarakat sama-sama tidak merasa yakin lagi apa yang seharusnya mereka perbuat.

            Menyikapi pelbagai permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan diperlukan ketajaman berfikir dan ide-ide yang bernilai agar pendidikan dapat memenuhi persyaratan pembangunan Negara-Bangsa. Pendidikan haruslah bersifat merata dan menyeluruh, terintegrasi dengan sektor-sektor pembangunan lainnya, dan mampu menjangkau ke masa depan untuk menyiapkan generasi  yang sesuai dengan cita-cita kehidupan kita berBangsa-berNegara.

            Sebagaimana menurut paham Taman Siswa Pendidikan Nasional ialah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat Negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia (Karya Ki Hajar Dewantara bagian pertama: Pendidikan, 1962:15).

Demikian pentingnya sebuah pendidikan, maka Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas WR. Supratman menyelenggarakan Seminar Pendidikan 2017.